“Kok
kantong yang dibawa sepertinya berat sekali?, Cyra jadi beli buku atau beli
beras?” Abi menyambut Mami dan Cyra yang baru pulang dari toko buku dengan
menggoda putri bungsunya.
Abi adalah satu-satunya
lelaki di rumah itu yang selalu membuat suasana rumah hangat dan ramai. Ketika Mami dan kedua putriya sedang kesal karena
suatu masalah, ia lah yang dapat merubah wajah kusut mereka menjadi segar dan
ceria kembali. Abi adalah sosok yang paling dirindukan oleh ketiga wanita di
rumah itu. Ketika Abi sedang pergi dinas keluar kota, hari kedatangannya akan
disambut oleh ketiga wanita itu dengan sangat meriah. Abi adalah lelaki yang
tak kenal lelah, setiap pulang dari kantor wajahnya segar dan semangat. Sore
hari adalah waktunya ia bercengkerama dengan kedua putrinya.
Pernah
suatu sore, saat Cyra sedang berada di taman kemudian Abi pulang dan
mengajaknya bermain, Cyra bertanya, “Abi di kantor kerja apa sih?, kok sampai
di rumah tidak terlihat wajah lelah?”. Abi tertawa kemudian seketika merubah
raut wajahnya seperti orang sedang kelelahan, mata sayu dan bibir cemberut, “Wajah
Abi harus seperti ini?”. Cyra tertawa lebar, dan Abi kembali bicara, “Di kantor
mungkin Abi memang lelah, tapi saat hendak pulang tiba-tiba energi Abi kembali
penuh dan semangat ingin segera tiba di rumah. Setiap di perjalanan pulang, Abi
selalu tidak sabar ingin segera bertemu dengan ketiga wanita yang sangat Abi
rindukan, meskipun Abi hanya meninggalkan rumah selama sembilan jam.”
Seperti
sore hari ini, melihat keceriaan di wajah Cyra meskipun cukup kepayahan membawa
kantong yang terlihat cukup berat, membuat Abi tidak dapat menahan untuk tidak
menggoda putri bungsunya itu.
Cyra
memanfaatkan situasi itu, “Ya ini Bi,
tolong bawakan,” senyumnya merayu manja.
Cyra segera
masuk ke dalam rumah dan duduk santai di ruang tengah, Abi dan Mami pun
menyusulnya.
