Selasa, 26 Juli 2016

Chapter 7 : Detektif yang Lupa


“Kok kantong yang dibawa sepertinya berat sekali?, Cyra jadi beli buku atau beli beras?” Abi menyambut Mami dan Cyra yang baru pulang dari toko buku dengan menggoda putri bungsunya.
Abi adalah satu-satunya lelaki di rumah itu yang selalu membuat suasana rumah hangat dan ramai.  Ketika Mami dan kedua putriya sedang kesal karena suatu masalah, ia lah yang dapat merubah wajah kusut mereka menjadi segar dan ceria kembali. Abi adalah sosok yang paling dirindukan oleh ketiga wanita di rumah itu. Ketika Abi sedang pergi dinas keluar kota, hari kedatangannya akan disambut oleh ketiga wanita itu dengan sangat meriah. Abi adalah lelaki yang tak kenal lelah, setiap pulang dari kantor wajahnya segar dan semangat. Sore hari adalah waktunya ia bercengkerama dengan kedua putrinya.
Pernah suatu sore, saat Cyra sedang berada di taman kemudian Abi pulang dan mengajaknya bermain, Cyra bertanya, “Abi di kantor kerja apa sih?, kok sampai di rumah tidak terlihat wajah lelah?”. Abi tertawa kemudian seketika merubah raut wajahnya seperti orang sedang kelelahan, mata sayu dan bibir cemberut, “Wajah Abi harus seperti ini?”. Cyra tertawa lebar, dan Abi kembali bicara, “Di kantor mungkin Abi memang lelah, tapi saat hendak pulang tiba-tiba energi Abi kembali penuh dan semangat ingin segera tiba di rumah. Setiap di perjalanan pulang, Abi selalu tidak sabar ingin segera bertemu dengan ketiga wanita yang sangat Abi rindukan, meskipun Abi hanya meninggalkan rumah selama sembilan jam.”    
Seperti sore hari ini, melihat keceriaan di wajah Cyra meskipun cukup kepayahan membawa kantong yang terlihat cukup berat, membuat Abi tidak dapat menahan untuk tidak menggoda putri bungsunya itu.
Cyra memanfaatkan situasi itu, “Ya ini Bi, tolong bawakan,” senyumnya merayu manja.
Cyra segera masuk ke dalam rumah dan duduk santai di ruang tengah, Abi dan Mami pun menyusulnya.

Chapter 6 : Pertemuan Dua Lelaki


Hari Sabtu.
Pagi-pagi Aland sudah berkemas menyiapkan sepeda motornya di halaman rumah. Sesuai jadwal yang tertulis dalam brosur, bahwa kegiatan kuliah pranikah akan dimulai hari ini. Aland tidak ingin terlambat untuk pertemuan perdananya ini.
Seusai jamaah sholat shubuh tadi, Aland menyampaikan kepada Abi dan Mami tentang agenda yang akan diikutinya selama dua bulan ke depan. Abi dan Mami memberikan tanggapan yang baik dan mendukung Aland untuk serius mengikuti kegiatan tersebut.
Pukul enam pagi, Aland sudah memanaskan sepeda motornya, kemudian berpamitan dengan Mami yang sedang berada di dapur. Ia sempat menengok ke arah pintu kamar Cyra yang terbuka, dilihatnya Cyra sedang asyik membaca buku.
“Cyra, kakak pamit dulu ya. Maaf, selama dua bulan ke depan kakak tidak dapat menemani hari libur Cyra di akhir pekan.” Aland berbicara dalam hatinya sendiri. Ia segera berlalu dari depan kamar Cyra menuju halaman rumah, kemudian menaiki sepeda motornya dan membawanya menyusuri jalanan yang dahulu rutin ia lewati selama masih menjadi mahasiswa.
Aland tiba di Masjid Kampus tepat lima belas menit sebelum kegiatan dimulai.
Ia segera menyiapkan buku kuning setelah narasumber mulai memberikan materinya. Pembahasan materi hari ini tentang persiapan pernikahan. Narasumber mengawali materinya dengan sebuah pertanyaan, “Apa itu pernikahan?”. Dan tepat sekali Narasumber itu menunjuk Aland untuk meberikan jawabannya. Aland bereaksi cukup kaget atas penunjukan dirinya, “Hah, kenapa aku?, apa aku yang terlihat paling bersemangat atau tampangku ini terlihat belum pantas membicarakan pernikahan,” Aland bergumam dalam hati dan segera mencari-cari jawaban di dalam pikirannya. Sesaat kemudian satu kalimat meluncur dari pikiran Aland, dan spontan ia memberikan jawabannya di depan Narasumber dan peserta yang lainnya, “Pernikahan adalah perjanjian. Acaranya berlangsung dalam hitungan menit. Yang penting dalam pernikahan adalah kehidupan pasca pernikahan itu sendiri.” Aland tersenyum kepada Narasumber, “Semoga jawabanku cukup mendekati yang ia harapkan,” gumamnya dalam hati.
“Tepat jawaban teman kita ini. Sudah siap menikah dik?” Narasumber itu menggoda Aland dengan pertanyaannya. Dan Aland hanya dapat membalasnya dengan senyuman, “Siap atau tidak, hatiku pun tak mampu menjawabnya,” hati kecilnya menjawab.
Narasumber melanjutkan penjelasannya, “Secara bahasa pernikahan adalah penggabungan atau pencampuran. Dan dalam istilahnya pernikahan adalah akad antara seorang laki-laki dengan wali perempuan.”

Chapter 5 : Princess Hania


Hari Jumat. Beberapa kendaraan di komplek itu keluar lebih pagi dari hari biasanya. Sang Bupati menerapkan pola hidup sehat bagi seluruh pekerja di kota ini. Senam pagi di hari Jumat menjadi salah satu yang diterapkan oleh mayoritas perusahaan.
Pukul 6 pagi, Abi dan Cyra sedang bergegas menghabiskan sarapan mereka di ruang makan. Sementara Mami menyiapkan perlengkapan Abi, dan Aland sibuk membereskan peralatan masak di dapur.
“Mami, rasa nasi gorengnya agak beda, lebih enak. Ditambah pake apa Mi?” Cyra bertanya ke Mami dengan setengah berteriak dan sambil terus mengunyah. Alih-alih mendapat jawaban dari Mami, Cyra mendapat teguran dari Abi.
“Ayo Cyra, kita harus bergegas. Ini hari Jumat, Abi harus berangkat lebih pagi, atau mau diantar Kak Aland saja?”. Abi sudah beranjak dari kursinya.
Eh, tidak Bi, Cyra diantar Abi saja. Cyra juga harus berangkat lebih awal.” Cyra terus menyelesaikan sarapannya sambil tersenyum merayu Abi.
Setelah minum air putih dan memasukkan bekal makannya ke dalam tas, Cyra mengingatkan Abi, “Abi nanti sepulang Abi dari kantor, Abi jemput Cyra lagi di rumah Anis seperti kemarin hari Rabu itu ya, kan jauh Bi kalau Cyra naik angkot sendiri. Nanti sepulang sekolah Cyra harus mengerjakan tugas lagi di rumah Anis, boleh kan Mi?” sambil memakai sepatunya di teras rumah, Cyra meminta ijin ke Mami dan Abi yang sudah menunggunya di halaman rumah. Mami mengerutkan dahinya mendengar permintaan Cyra.

Selasa, 05 April 2016

Bahagia dengan Membahagiakan


Kisah ini berasal dari sebuah rumah petak berukuran lima kali tujuh meter di salah satu kota besar di Indonesia. Ghani namanya, seorang laki-laki desa dengan perawakannya yang santun dan sangat mencintai istri satu-satunya. Ia kini terdampar dalam profesi seorang guru demi meneruskan perjuangan ayahnya. Namun, bukan menjadi seorang guru lah cita-cita Ghani, melainkan seorang programmer. Saat ini, sambil terus merajut cita-citanya, ia tetap bertanggungjawab pada profesi gurunya, juga pada keluarga kecilnya.

Senin, 04 April 2016

Menjadi Santri Baru di Darul Arqam

Darul Arqam in my memory
Enam tahun di Darul Arqam (DA) bagi saya itu merupakan salah satu fase hidup. Ketika baru masuk menjadi santri baru, saya berpikir sepertinya saya akan menjalani sisa hidup hanya di pondok tersebut (padahal saat itu masih berusia 11 tahun). Tapi pikiran tersebut menjadi penyesalan di tahun terakhir saya di DA, karena justru enam tahun saya di pondok bukan menjalani sisa hidup namun masa karantina (ini bahasa saya). Sejauh mana seorang alumni DA menjadi “orang” kemungkinan besar dipengaruhi oleh enam tahun masa karantina tersebut. Pernah saya mencoba mencari foto saya saat sebelum masuk DA dan setelah lulus dari DA, saya sangat yakin bahwa hal yang membentuk diri saya sehingga berbentuk seperti saat ini yaitu karena kehidupan masa karantina tersebut. Coba teman-teman melakukan hal seperti itu bahkan sampai identifikasi diri mulai dari hal yang kecil, seperti makanan kesukaan dan yang tidak disukai.